Dokumentasi Belajar Tartil

Proses belajar mengajar tentunya sangat dibutuhkan simbiosis mutualisme antara ustadz/ah dengan santri, meskipun terkadang terjadi simbiosis parasitisme yang menyebabkan ketumbangan dalam proses tersebut. Santri adalah mereka yang menerima, dan bertukar pendapat tentang cara pandang ilmu agama dengan ustadz/ah. Mereka mempunyai berbagai karakteristik yang bermacam-macam. Tidak heran jika terkadang ada santri  yang crewet namun ketika dimintai menjawab pertanyaan ia tak mau, ada juga yang cari perhatian lewat kenakalannya, tapi pintar atau bahasa mudahnya sembodo.

Tentunya sebagai ustadz/ah pun, kita tidak bisa menerapkan sistem pengajaran yang sama untuk semua santri, kadang ustadz/ah perlu  pendekatan, perlu pendampingan, perlu memberikan perhatian yang lebih kepada santri yang tergolong istimewa. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menjadi seorang pendidik:

  1. Berlaku lembut, dan penuh kasih sayang

Dalam sebuah riwayat disebutkan “berlakulah lembut, dan jauhilah sifat keras dan keji” tentu kita dapat menarik kesimpulan bahwasanya dengan berlaku lembut dan penuh kasih sayang santri akan merasa nyaman dan mereka tidak merasa tertekan ketika proses sedang berlangsung.

  1. Melakukan pendekatan persuasif

Ketika salah satu dari santri yang kita hadapi terdapat yang istimewa, sebaiknya kita coba perhatikan, dekati dan jangan sungkan untuk mencoba mengobrol dibelakang layar, jangan pernah kita memojokkan santri yang mempunyai tabiat spesial ini. karena, ketika kita melakukan hal tersebut hal yang sangat ditakutkan adalah santri semakin over dan berakibat mempengaruhi teman yang lain. Kadang, santri nakal bukan karena memang empunyai sifat tersebut, tapi kemungkinan ia ingin diperhatiakan.

  1. Ciptakan proses pembelajaran yang kreatif

Proses penyampaian materi yang monoton akan menyebabkan ke-booring-an didalam forum serta kelas menjadi tidak kondusif. Sebagai ustadz/ah tentunya kita juga dituntut harus bisa lebih kreatif dalam proses edukasi, mungkin lewat lagu atupun dengan melihat gambar, melihat sekeliling kita, ataupun hal lain yang sekiranya tidak membuat jenuh.

  1. Mendo’akan

Do’a adalah bahasa yang sangat lembut dan akan memberikan pengaruh yang lebih dahsyat. Telah banyak cerita yang mungkin akan selalu diulang-ulang, bahwa pendidik yang baik adalah ia yang ridho dan mau mendo’akan santri senakal apapun itu.

Jadilah sosok pendidik yang memahami kebutuhan santrinya, dan jadilah santri yang madep mantep, manut kepada guru supaya memudahkan kita mendapatkan ridho-Nya. (ustadzah Amanatul Khoiroh)

Tinggalkan Balasan