Sekapur Sirih TPA TQA LQ

Sejarah dan Perkembangan TPA-TQA Al-Luqmaniyyah

        Lembaga pendidikan non formal ini bernama Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Al-Luqmaniyyah Umbulharjo Yogyakarta. TPA ini mula-mula didirikan oleh sekelompok santri Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah yang diprakarsai oleh ustadz Ajhar Jamaluddin yang mempunyai kepedulian terhadap Pendidikan Agama Islam. TPA ini didirikan atas dasar permintaan warga sekitar Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah agar diadakan kegiatan pendidikan Al-Qur’an untuk putra-putri mereka. Para santri Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah juga merasa prihatin dengan keadaan anak-anak yang berada di lingkungan pondok pesantren karena belum mendapatkan pendidikan agama Islam secara maksimal, sehingga menimbulkan kekhawatiran dalam diri mereka akan masa depan anak-anak di lingkungannya.

       Berangkat dari hal tersebut dan atas persetujuan dari pendiri (mu’assis) Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah yaitu bapak H. Luqman Jamal Hasibuan dan setelah mendengar permintaan warga secara langsung, maka ustadz Ajhar Jamaluddin menyatakan bahwa pembelajaran Al-Qur’an sudah bisa dimulai. Para warga diminta agar memberitahukan kepada putra-putrinya untuk berangkat mengaji ke Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah menjelang maghrib, agar dapat mengikuti shalat maghrib berjama’ah dan diteruskan mengaji hingga wajtu shalat isya. Tepatnya TPA Al-Luqmaniyyah diresmikan pada tanggal 04 Agustus 2004.

       Pemilihan waktu belajar setelah maghrib ini dikarenakan tidak ada waktu lain yang memungkinkan, karena jika TPA diselenggarakan setelah waktu shalat asar seperti halnya TPA pada umumnya, maka akan mengalami kendala tempat dan tenaga pengajar. Karena jam tersebut merupakan jam wajib pesantren, sehingga semua ruangan dipakai untuk mengaji dan santri yang diharapkan untuk membantu mengajar pun masih mengikuti jam pelajaran wajib pesantren. Oleh sebab itu, kegiatan TPA dilaksanakan setelah maghrib untuk menjembatani permasalahan tersebut.

       Seiring berjalannya waktu santri TPA Al-Luqmaniyyah semakin bertambah banyak sehingga pihak pengelola TPA membagi menjadi tiga kelas. yaitu: kelas I’dadi, kelas Wustho dan kelas Ulya, santri TPA yang sudah dikelas Ulya ketika sudah memenuhi syarat kelulusan maka nantinya akan diwisuda. namun ada masalah baru yang terjadi yaitu ketika santri kelas Ulya sudah diwisuda para wali santri santri masih menginginkan putra putrinya masih berada di TPA dan akhirnya pengelola membuat kelas baru untuk menampung santri-santri TPA yang sudah di wisuda dan kelas itu diberi nama kelas TQA (Ta’limul Qur’an LIl Aulad) dan diresmikan pada tahun 2013.